BER-NOSTALGIA DENGAN ALBUM GURUH GIPSY

GuruhGipsy 

oleh  : Denny Sakrie / KPMI
Bila album Sgt Pepper’s Lonely Heart’s Club Band nya The Beatles (1967) dianggap sebagai tonggak revolusi musik pop dunia, maka rasanya tak berlebihan bila kita menyebut album Guruh Gipsy (1976) dari Guruh Gipsy sebagai tonggak musik pop Indonesia.
Banyak analis musik yang tersemat di album Guruh Gipsy yang kemudian menjadi semacam miles ahead terhadap kecenderungan bermusik di negeri ini. Seperti perpaduan antara musik Barat (baca: rock atau jazz) dengan musik etnik yang kini dilakukan banyak grup musik seperti Karimata, Krakatau, Discus, Simak Dialog dan banyak lainnya.

Atau simak ballad berbalut orkestra yang kerap dilakukan oleh pemusik-pemusik di masa kini. Uniknya tematik lirik lagu yang tertuang dalam album ini masih relevan dengan kondisi kita sekarang. Padahal rentang waktunya sudah 30 tahun, sejak album Guruh Gipsy dirilis pertamakali pada jelang akhir tahun 1976. Simak penggalan larik lagu Geger Gelgel ini:
Hasrat hati ingin membeber segala perilaku palsu
Degup jantung irama batel bagai derap pasukan Gelgel
Menentang penjajah angkara
Penindas dasar hak manusia
Wahai kawan nyalangkan matamu
Simaklah dalam babad Moyangmu
Atau simaklah perihal kontaminasi budaya yang diungkap dalam lagu Janger 1897 Saka:
Art shop megah berleret memagar sawah
Cottage mewah berjajar di pantai indah
Karya cipta nan elok indah
Ditantang alam modernisasi
Isu arus intervensi budaya Barat yang deras di negara ini jelas terungkap dalam laguChopin Larung yang berbalut bahasa Bali:
Sang jukung kelapu-lapu, santukan baruna kroda
Nanging Chopin nenten ngugu
Kadangipun ngarusak seni budaya
(Perahu terombang-ambing ,karena dewa laut murka.
Namun Chopin tiada memahami bangsanya merusak seni budaya)
Pada lagu yang salah satu frasa-nya menyusupkan komposisi klasik Fantasia Impromptu karya Chopin dengan gamelan Bali ini, dikiaskan rasa prihatin Guruh terhadap intervensi budaya asing yang disimbolkan pada Fryderyk Franciszek Chopin, komposer klasik Polandia.
Kolaborasi antara Guruh dengan grup band Gipsy ini bisa dianggap semacam simbiose mutualisme.Guruh yang sangat menguasai budaya Bali bertaut dengan Gipsy, grup rock yang paham pakem rock progresif seperti repertoar dari Genesis, Yes maupun Emerson Lake and Palmer (ELP) yang pernah mereka mainkan. Jadi tak heran dibagian interlude Janger 1897 Saka tiba-tiba menyeruak notasi dari outro lagu Watcher Of The Skies nya Genesis.
Proyek Guruh Gipsy ini didukung oleh Guruh Soekarno Putera (piano,gamelan),Keenan Nasution (drum,vokal), Chrisye (vokal,bass), Roni Harahap (piano,kibor),Oding Nasution (gitar) dan Abadi Soesman (synthesizers). Sebuah eksperimen yang dianggap banyak menghabiskan biaya produksi dan memiliki nilai terobosan yang ambisius. Meskipun sebetulnya menyandingkan dua kultur musik yang berbeda bukan hal yang tak pernah dilakukan orang sebelumnya.
Si ‘bengal’ Harry Roesli (alm) dan berbagai nama lainnya pernah melakukan hal yang sama. Bahkan di tahun itu baru saja dirilis album eksperimen Bali Agung yang menggabungkan musik rock dan musik tradisional Bali oleh pemusik eksperimentalis Jerman, Eberhard Schoener.
Membaurkan gamelan dan musik tradisional, sebetulnya bukan sesuatu yang baru. Komposer Jean Claude Debussy pun telah melakukan hal tersebut dalam ranah klasik. Juga ada pemusik Kanada Collin McPhee yang sejak era 1930-an telah membuat komposisi yang bertumpu pada seperangkat gamelan bertajuk Tabuh-tabuhan (1934).
Bahkan, Jim Morrison dengan The Doors nya, telah melakukan hal serupa. Pada pada album LA Woman The Doors (1971) termasuk pula album solo Ray Manzarek bertajuk The Golden Scarab hingga Bali Agung Eberhard Schoener (1976).
Tetapi Guruh Gipsy ternyata memiliki pesona tersendiri, karena mereka tak hanya melakukan eksplorasi bunyi belaka melainkan juga pada tema penulisan lirik yang memasuki wilayah kritik sosial. Coba amati sampul album Guruh Gipsy yang menampilkan kaligrafi Dasabayu, berupa rangkaian 10 aksara Bali dengan arti dan makna tertentu pula. Yaitu I-A berarti kejadian dan keadaan, A-Ka-Sa berarti kesendirian dan kekosongan, Ma-Ra berarti baru, La-Wa berarti kebenaran dan Ya-Ung berarti sejati.
Konon, kombinasi ke 10 aksara itu di zaman dahulu kala oleh orang Bali diyakini memberikan tuah. Dan gabungan aksara Bali itu sepenuhnya diterjemahkan sebagai suatu keadaan hampa atau kosong yang nantinya akan berubah menjadi kebenaran yang hakiki. Mungkin kita sepakat, jika menelaah lebih jauh, album Guruh Gipsy adalah sebuah mahakarya. Sebuah karya yang menyita banyak pikiran, tenaga dan pengorbanan dalam proses penggarapannya. Dalam catatan saya, album Guruh Gipsy yang hanya dicetak sebanyak 5.000 keping kaset ini harus melalui masa penggarapan yang sangat panjang dan melelahkan.
Album Guruh Gipsy yang disampul depannya menyertakan tagline: ‘kesepakatan dalam kepekatan’, memulai masa proses rekaman pada Juli 1975 dan berakhir pada November 1976. Tahap awal proses rekaman berlangsung dari Juli 1975 hingga Februari 1976 dan menggarap sekitar empat lagu, Geger Gelgel, Barong Gundah, Chopin Larung serta sebuah lagu yang belum diberi judul namun akhirnya tidak jadi dimasukkan dalam album.
Tahap selanjutnya berlangsung selama sebulan penuh mulai dari Mei-Juni 1976 dan menghasilkan 4 lagu yaitu Smaradhana, Indonesia Maharddhika, Janger 1897 Saka dan Chopin Larung yang harus direkam ulang karena masalah teknis. Hal serupa juga dialami lagu-lagu lainnya seperti Barong Gundah dan Chopin Larung. Hingga akhirnya tahap terakhir berupa proses mixing yang berlangsung sekitar 5 bulan mulai dari Juli 1976 hingga November 1976.
Menjelang akhir tahun 1976 album Guruh Gipsy pun dirilis. Sebuah karya eksperimen telah lahir. Namun tak semua orang mengenal maupun menikmati karya kolosal ini ketika album ini dirilis ke pasaran. Tapi siapa nyana, 30 tahun kemudian, album Guruh Gipsy menjadi album yang paling banyak dicari-cari orang. Mungkin karena faktor kelangkaannya, album ini pun menjadi topik diskusi dari penggemar musik rock progresif di Eropa, Jepang dan Amerika.
Bahkan beberapa radio yang memutar dan mengapresiasikan musik rock progresif seperti yang dijumpai di Swiss, Belgia hingga Kanada memutar dan mengulas album Guruh Gipsy ini. Dari ukuran industri album Guruh Gipsy memang tidak memenuhi target penjualan, namun dalam pencapaian artistik album Guruh Gipsy bisa dianggap sebagai inspirasi untuk generasi setelahnya. Persis sama dengan album Sgt Pepper’s Lonely Heart’s Club Band nya The Beatles yang gagal dalam pemasaran,namun dianggap telah mencapai titik revolusi dalam musik pop.
(Republika, 12 Juni 2006)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: